Drama : LIES COVERED

13 Jul

Drama… Oh.. Dramaa…

Sewaktu akhir semester kelas 3 SMA, ada tugas buat drama.

Woww… brarti harus pintar2 berakting niy… Padahal saya kurang suka ama yang namanya akting,,, tapi ini tugas memang kewajiban, jadi mau ga mau harus ikut drama deh…. Huffft…..

Dan taraaaa… ini lah drama yang saya mainkan bersama teman-teman saya. Hahahha .

Jadi yang berminat, silahkan ya baca ajah…

Smoga tidak cukup membosankan, huehehehe…

Check this out. 

LIES COVERED

HARI  I

Pagi itu, jam weker di kamar berdering membangunkan Tia. Tangannya meraba meja kecil yang ada di sebelah tempat tidurnya, mencari weker yang sedari tadi memekakkan telinganya untuk segera dimatikan. Kakinya di jejakkan ke lantai dari atas tempat tidur. Lalu ia bergegas ke kamar mandi dan setelah itu menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa olehnya hari itu ke perkuliahannya. Ia membuka pintu kamarnya. Dan hal pertama yang ditemukannya adalah ibu kos yang sedang merajut di sofa depan.

Ibu kos         :    “Eh, Tia…Mau berangkat kuliah? Baguslah, jangan seperti dua orang itu yang selalu telat berangkat kuliah (sambil menunjuk ke arah Michael dan Fadhil yang sama-sama baru bangun dan berebut untuk masuk ke kamar mandi), paling-paling saking sudah telatnya, mereka toh akan bolos juga. Yasudahlah, makan pagimu sudah ada di meja makan.”

Tia          :    (melihat ke arah kamar mandi yang masih diperebutkan Michael dan Fadhil, sambil menalikan sepatunya) “Ya. Tapi aku mungkin makan di kantin kampus saja, terimakasih.” (lalu berjalan menuju pintu luar)

Ibu kos         :    “Huh, dasar anak kuliah. Mereka pikir mereka bisa bertahan. Tapi pada akhirnya mereka merengek-rengek juga pada yang tua.”

(pandangannya terus tertuju pada rajutannya, lalu tak tahan mendengar keributan di depan kamar mandi dan seraya menghampiri)

“Hei, lama-lama kalian akan kupaksa mandi berdua, mau kalian? (Fadhil dan Michael saling menuduh dan menggelengkan kepalanya dengan wajah seolah tak terjadi apapun), jangan ribut, rajutanku jadi berantakan oleh suara kalian”

Tia sudah tidak mempedulikan suara-suara ricuh di belakangnya yang selama beberapa bulan ini meramaikan tempat kosnya. Ia pun sudah hampir telat datang kuliah, maka ia pun mempercepat langkahnya.

Tia akhirnya sudah sampai di taman kampusnya, ia melihat jamnya, tapi ia tahu ia telah telat beberapa menit untuk masuk ke kelas dosen yang killer dan tak kenal toleransi waktu barang semenit itu. Ia pikir percuma saja ia mencoba membuat dosennya mempercayai semua alasan yang telah membuatnya telat, jadi ia hanya duduk di bangku taman menunggu seluruh jam pelajaran dosen itu berakhir dan mengikuti mata kuliah selanjutnya. Tak jauh dari tempat ia duduk…

Tetya      :    “Apa kamu ingat mata kuliah berikutnya setelah ini?”

Dian        :    “Ng…akupun tidak ingat.” (sambil menunjuk ke arah kepalanya sendiri)

Tetya      :    “Argh…seharusnya aku tahu kaupun tidak akan tahu kalau aku tidak tahu” (sambil melayangkan telunjuknya ke arah Dian)

“Ohya, kamu tahu Raman khan?! Menurutku ia cukup menarik untuk kujadikan pasanganku untuk sementara waktu ini, yaah mengisi waktu luang saja.”

Dian        :    “Iya, tapi ada temannya tuuuh…” (sambil menunjuk Tia yang duduk di dekat mereka)

Tetya      :    “Siapa peduli dengan perempuan FREAK sepertinya! Heran sekali melihat Raman mau dekat-dekat dengan perempuan seperti itu”

Dan seketika itu Tia sadar bahwa ialah yang menjadi obyek pembicaraan mereka, karena ia melihat Dian masih menunjuk-nunjuk dirinya, tapi ia tetap tak cukup peduli untuk menghampiri Tetya dan Dian dan menanyakan apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Sesaat ia berpikir, Hilman, kekasihnya, datang menghampirinya.

Hilman    :    “Sayang, kenapa saat ini kamu masih ada di taman? Kamu telat? Biasanya kamu tidak pernah telat.”

Tia          :    “Ng…sebenarnya akhir-akhir ini aku…”

(belum saja ia menyelesaikan kalimatnya, Hilman yang acuh padanya pun dengan enaknya mengganti topik pembicaraan)

Hilman         :    “Yasudah kalau kamu memang sedang tidak mood, sekarangkankamu telat, lebih baik kita makan di luar saja yuk, makanan di kantin kampus ini membuatku bosan.” (ia pun langsung menggandeng Tia dan mereka berdua meninggalkan kampus)

Tia          :    (tapi Tia mempertahankan posisi duduknya) “Aku sedang ingin bicara,Man.”

Hilman         :    “Yaah…kitakanbisa bicara di tempat kita makan nanti. Ayo!” (lalu berusaha menggandengannya lagi, dan akhirnya mereka pergi meninggalkan kampus)

Sementar itu di kejauhan…

Tetya      :    “Aku berani bertaruh kalau Hilman hanya mempermainkannya saja.” (dengan raut muka mencibir)

Dian        :    “Dipermainkan bagaimana?” (dengan wajah innocent)

Tetya      :    “Yaaah…paling-paling sekali pakai langsung di buang. Hahahahahaha!” (tertawa sinis)

Di tempat lain Tia dan Hilman telah sampai di sebuah rumah makan. Hilman pun memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk mereka berdua.

Hilman         :    “Nah, sekarang kamu ingin bicara apa?”

Tia          :    “Belakangan ini aku…” (pembicaraan terhenti karena tiba-tiba handphone Hilman berdering)

Hilman         :    (Segera beranjak dari kursi dan berjalan agak menjauh, lalu mengangkat telepon tersebut dengan nada suara sedikit berbisik) “Mmm…ya,ya! Iya, ini aku lagi ada di kampus, belum pulang. Nanti aku hubungin kamu lagi aja ya, daaag!” (Hilman kembali duduk di tempat semula bersama Tia)

Tia          :    “Telepon dari siapa?”

Hilman         :    “Ah, biasa…dari ibuku yang di luarkota! Ohya makanannya di bungkus saja ya, aku ada perlu, urusan keluargaku, kamu tidak keberatan khan sayang?”

Tia          :    “Yasudah, kita pulang saja.”

Hilman    :    “Lho, bukannya kamu masih ada kuliah?”

Tia          :    “Aku lagi males kuliah.”

Hilman    :    “Mmm…baiklah, kalau begitu aku antar kamu dulu ke tempat kos kamu.” (berlagak tidak peduli dan cuek terhadap apa yang terjadi dengan Tia, dan mereka berdua pun meninggalkan restoran tersebut)

Mereka sudah sampai di depan tempat kos Tia.

Hilman         :    “Sudah ya sayang, aku pergi dulu” (Hilman dengan refleksnya mencoba memberikan ciuman perpisahan untuk Tia)

Tia          :    (ia menolaknya dengan tangannya) “A,a…no kiss” (berkata dengan  dingin, lalu keluar dari mobil dan meninggalkan Hilman)

Sesampainya di dalam rumah, lagi-lagi ia mendapati ibu kos yang sedang sewot dengan kedua teman kosnya, Michael dan Fadhil. Entah apalagi yang mereka perbuat sekarang, yang jelas membuat ibu kos menjadi naik pitam. Begitu herannya mereka tidak di ‘drop out’ oleh ibu kos hingga sekarang. Bahkan sedang dimarahi oleh ibu kos pun Michael masih sempat menyapanya. Tapi ia pun tak peduli dan membiarkan kebisingan itu melaluinya seraya ia berjalan ke arah kamarnya.

Michael   :    “Wei Tia, baru pulang?”

Ibu kos    :    “Kalian bisa memperhatikanku barang sebentar tidak sih? Sudah berapa kali kukatakan kalau kalian harus membereskan segala sesuatu yang ada di kamar kalian. Kemarin aku lihat kamar kalian berbau apek dan sudah tidak  beraturan lagi susunan perabotnya, apa kalian mengharapkan aku yang membereskan semuanya? Oya, aku juga baru ingat kalau kalian belum bayar 2 bulan”

Fadhil      :    “Ah masa? Seingatku malah 3 bulan.” (sambil menyodorkan ketiga jarinya ke depan pandangannya)

Ibu kos    :    “Kau mencoba melucu ya?”

Fadhil      :    “Aku hanya mengingatkan.”

Michael   :    “Kita berduakanorang yang berasal dari tempat yang jauh, masa ibu tidak memberi kita toleransi waktu?”

Suara pertengkaran itupun berhenti terdengar ketika Tia menutup pintu kamarnya. Ia meletakkan tasnya ke atas tempat tidur, menghempaskan diri sejenak, melepaskan kepenatan yang dialaminya tadi bersama Hilman sambil memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong dan merenungkan mengapa ia begitu stress belakangan ini. Sesaat kemudian ada  yang memutus lamunannya tersebut. Dari komputer  yang ada di kamarnya muncul e-mail aneh yang bertuliskan…

“AKU ADALAH BAYANGAN DIRIMU, SESAAT SEBELUM KEMATIANMU MENJELANG! MATILAH…MATILAH…MATILAH…MATILAH…MATILAH…!”  Dan pesan tersebut disertai dengan gambar yang menyeramkan pula, seolah berhawa ingin segera membunuhnya. Ia terus memandangi pesan tersebut, sampai-sampai ia tidak mendengar ibu kos memanggilnya dari balik pintu kamarnya.

Ibu kos    :    “Tia…! Tia…!”

Tia          :    “Ya?”

Ibu kos    :    “Adayang ingin menemuimu. Ia menunggu  di ruang depan.”

Tia segera membuka pintu kamarnya dan bergegas menuju ruang depan, ingin mengetahui siapa yang hendak menemuinya. Dan ternyata orang itu adalah Raman. Ia adalah teman sekampus Tia.

Raman    :    “Hai, umnmm…tadi kamu kenapa tidak  masuk kuliah?”

Tia          :    “Aku ada urusan.”

Raman    :    “Ng…tapi tadi aku melihatmu pergi dengan Hilman.”

Tia          :    “Lalu apa salahnya dengan itu?”

Raman    :    “Tapi, itu sama saja kau bolos kuliah, sementara satu minggu lagi kita akan ada tes mata kuliah tersebut”

Tia          :    “Jadi kamu kesini hanya ingin menguliahiku dengan memberikan nasehat-nasehat yang menurutku tak perlu?”

Raman    :    “Sesungguhnya aku kesini untuk meminjamkan catatanku mengenai materi yang kau lewatkan hari ini. Aku khawatir kau tidak siap menghadapi tes.” (mengeluarkan buku  dari dalam tasnya dan memberikannya kepada  Tia)

Tia          :    “Oh, terimakasih. Tapi, aku sebenarnya tak butuh pendapatmu tentangku atau menganggapku anak kecil yang harus diarahkan langkahnya lagi.”

Raman    :    “Hei. Aku hanya berniat baik padamu, tenanglah.”

Tia          :    “Maaf, tapi terimakasih atas niat baikmu. Aku harus  ke dalam, sampai jumpa besok.” (dengan nada sinis, dan Tia pun masuk ke dalam rumah)

Raman         :    “Tia…” (berusaha  memanggil, tapi tak berhasil, lalu ia pergi dari tempat kos Tia)

Malam harinya, Tia bermimpi buruk. Ia mendapati dirinya tengah berdiri di suatu halte bus sendirian. Ia pun tidak mengetahui bahwa di antara semak-semak tepat di  belakang tempat ia berdiri, ada sesosok pengintai yang siap melingkarkan tangannya ke leher Tia. Sosok tersebut terus mengendap-endap di belakang Tia, mencari kelengahan Tia. Sesaat Tia menoleh dan menyadari sosok tersebut telah sangat dekat dan ia tak bisa lagi berlari kemanapun, ia berteriak. Lalu ia pun terbangun dari mimpinya, terengah-engah ketakutan. Ia pun teringat akan e-mail yang diterimanya tadi siang, sejenak ia merasa ada gaungan suara yang mengatakan MATILAH…MATILAH…MATILAH… yang membuat ia semakin tak tenang. Tapi kemudian ia melanjutkan tidurnya hingga esok hari.

Sementara itu Michael membangunkan Fadhil. Sebelumnya di tampilkan seseorang dalam sosok yang disamarkan yang sedang mengendap-endap melewati depan kamar Michael (pemain figuran)

Michael   :    “Dhil, Fadhil! Woy bangun.” (setengah berbisik)

Fadhil      :    (membuka pintu kamarnya dengan mata kantuknya) “Apaan sih? Jam berapa sekarang?” (matanya melihat jam dinding) “Wuih, jam 2 pagi.Adaapa sih sebenarnya?”

Michael   :    (sambil celingak-celinguk dan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya) “Ssssst…dengar. Kau dengar suara itu?”

Fadhil      :    “Suara apa?”

Michael   :    “Sepertinya ada maling.Adasuara langkah seseorang.”

Lalu mereka melihat seisi rumah dengan mengendap-endap alih-alih memang ada maling. Tapi ternyata tidak ada.

Fadhil      :    “Ah…hanya khayalanmu saja. Dan kau mengganggu tidurku, kau tahu! Sudahlah, aku kembali tidur saja”

Fadhil meninggalkan Michael yang masih kebingungan. Ia masih merasa telah mendengar langkah seseorang yang melewati depan kamarnya. Lalu ia berpikir ‘Inikanjam 2 pagi, mungkin aku memang salah dengar saking mengantuknya’. Lalu ia pun kembali ke kamarnya. Tanpa mereka ketahui derap langkah itu memang ada.

HARI  II

          Sejak dari ia terbangun dari tidurnya, ia semakin malas untuk datang kuliah hari itu. Ia merasakan tekanan dari berbagai pihak padahal ia tidak sedang memiliki suatu masalah apapun dengan siapapun. Hari ini di mulai dengan mencoba menghapus e-mail kemarin yang sempat menganggunya dan membuat ia bermimpi buruk. Sementara ia mengecek apakah ada e-mail lain semacamnya yang mungkin datang pada malam hari kemarin, ia merasakan perutnya sudah berirama. Ia ingin makan. Ia pun membuka pintu kamarnya. Tadinya ia mengira akan kembali melihat pertengkaran rutin di pagi hari antara dua orang temannya dan ibu kos. Akan tetapi, yang didapatinya  lain. Ia mendapatkan seekor bangkai tikus tergeletak di depan kamarnya yang membuatnya terkejut. Saat itu pula Fadhil dan Michael jalan melewatinya sambil keheranan.

Michael   :    “Wah, kenapa bisa ada bangkai tikus di depan kamarmu, Tia?”

Fadhil      :    “Kau tidak ingin mengerjai ibu kos khan?”

Tia          :    “Tentu tidak, bodoh. Akukantidak seperti kalian. Apakah kalian bisa membantuku membuang bangkai ini, huhhhh…baunya!”

Michael   :    “Ya, seperti sudah lama menjadi bangkai saja. Baiklah, sini…aku yang akan  membuangnya.” (Michael menjumput ekor bangkai tikus tersebut dan ia berjalan menuju tong sampah besar di depan rumah)

Fadhil      :    “Menurutku juga begitu, seperti sudah di persiapkan untuk di letakkan di sini. Apalagi semalam Michael mendengar suara langkah seseorang.” (wajahnya berlagak pintar dan sok menganalisa)

Tia          :    “Mungkinkah ada orang yang…”

Fadhil      :    “Aku hanya bergurau, mungkin saja tikus ini memang kebetulan tergeletak di depan kamarmu. Bisa saja di depan kamarku, atau kamarnya (sambil menunjuk Michael yang baru saja kembali dari tong sampah depan rumah).”

Michael   :    “Ya…hanya kebetulan. Karna setelah kita mencari suara langkah tersebut, ternyata saat itu memang tidak ada orang dan semua pintu rumah dan jendela terkunci rapat. Jadi tikus itu memilih mati di depan pintumu, Tia. Tak ada yang aneh dengan itu kurasa.”

Tia masih kebingungan dan terkejut atas bangkai tersebut, sementara Michael dan Fadhil sudah meninggalkan Tia dan melakukan kegiatan mereka yang lain. Tia pun sudah kehilangan nafsu makannya, perutnya mual membayangkan bangkai tikus tersebut. Ketika ia ingin menutup pintunya untuk kembali ke dalam kamar dan menunda keinginan makannya, ibu kos sudah menyuruhnya untuk makan. Akhirnya ia pun hanya mengambil selembar sandwich dan meneguk langsung secangkir teh hangat yang ada di meja makan. Lalu ia berniat untuk menghirup udara segar pagi hari dengan berjalan sepanjang komplek perumahan dan berharap bisa menghilangkan ingatan atas kejadian-kejadian yang cukup aneh yang terjadi beruntun kepadanya belakangan ini.

Sementara itu di tempat kuliah…

Dian        :    “Kamu menunggu siapa sih?”

Tetya      :    “Aku menunggu Raman datang. Dia sudah berjanji ingin menghabiskan waktu denganku hari ini dan seharusnya ia sudah datang sepuluh menit yang lalu. Kemana saja dia?”

Dian        :    “Jadi kau berhasil mengajaknya?”

Tetya      :    “Tentu saja.”

Dian        :    “Tapi bukankah ia biasanya bertemu dengan temannya itu sepulang kuliah?”

Tetya      :    “Itu sudah kuperhitungkan. Temannya yang FREAK itu hari ini tidak masuk kuliah. Entah apa yang terjadi dengannya, aku tidak peduli.”

Dian        :    “Lalu apakah Raman juga tidak masuk kuliah? Bukankah kalian seharusnya dapat pergi dan berangkat bersama-sama dari kampus sepulang kuliah?”

Tetya      :    “Pulang kuliah tadi dia ada urusan sebentar, sehingga dia harus pergi beberapa menit dan kembali lagi kesini menemuiku. Tapi aku belum melihatnya lagi. Dan bisakah kau tak bertanya lagi? Aku agak risih mendengarnya.”

Dian        :    “Um, OK!”

Tetya      :    (melihat Raman datang dengan berlari-lari kecil di kejauhan menghampirinya) “Nah, itu dia.”

(Raman terengah-engah menemui Tetya) “Mengapa kau telat?”

Raman    :    “Maaf, aku memang janji akan datang dan sekarang sudah telat setengah jam, tapi keperluanku benar-benar mendesak. ”

Dian        :    “Tapi aku ikut ya?” (langsung menutup mulutnya dengan mengucapkan ‘oops’)

Tetya      :    (sambil mengepalkan tangannya) “Diaaaan…”

Raman    :    “Tidak apa-apa. Lebih banyak orang lebih seru bukan?”

Tetya      :    “A…a…yasudahlah” (dengan  nada bicara dan senyuman yang terpaksa)

Lalu mereka pun pergi menghabiskan waktu ke sebuah mall. Tetya sudah merasa Raman membukakan hati untuknya. Tapi dugaannya salah. Saat bersama Tetya pun Raman tetap memikirkan Tia. Ia tak peduli apa yang diocehkan oleh Tetya sepanjang perjalanan itu, ia sedang merasa telah meyinggung perasaan Tia kemarin saat ia ke tempat kosnya. Ia memutuskan meneleponnya melalui handphone. Sementara itu Tetya masih mengoceh tidak jelas. Raman pun mulai menghubungi handphone Tia.

Tia          :    (menerima telepon dari Raman) “Hallo”

Raman    :    “Halo Tia, ini aku, Raman.”

Tia          :    “Oh, Raman…Adaapa?”

Raman    :    “Maafkan aku kemarin ya. Mungkin aku memang menyinggung urusan pribadi kamu yang sesungguhnya aku tak perlu tahu.”

Tia          :    (ternyata Tia masih mengelilingi komplek perumahan, dan sekarang sudah mendekati rumah) “Tidak apa – apa, saat itu aku memang sedang banyak tekanan pikiran.”

Raman    :    “Ng…kalau kau ingin cerita padaku, ceritakan saja masalahmu padaku.”

Tia          :    (Tia sudah masuk ke dalam rumah dan melangkah menuju kamarnya) “Sepertinya aku tidak perlu menceritakannya padamu, masalahku adalah bebanku dan tanggung jawabku untuk menyelesaikannya sendiri, dan aku sekarang sedang tidak ingin berbagi beban dengan siapapun.”

Raman    :    “Kau tidak marah lagi padaku khan?”

Tia          :    “Tidak, tentu saja tidak.” (Tia membuka pintu kamarnya dan berteriak spontan karena menemukan kamarnya porak poranda, dan teriakan itupun terdengar di handphone Raman)

Raman    :    (Terkejut) “Tia! Tia! Kamu kenapa? Kenapa kamu teriak? Aku kesana, Tia!” (langsung meninggalkan Tetya dan Dian dengan segera tanpa berkata apa – apa)

Tetya      :    “Lho, Raman! Raman! Kamu mau kemana? Koq aku dan Dian di tinggalkan begitu saja?” (Tetya sangat kesal dibuatnya)

Dian        :    “Tuhkan, untung saja aku ikut. Jadi ada yang menemani kau saat ini.” (sambil memegang pundak Tetya)

Tetya      :    (menepis tangan Dian) “Aaaargh…jauhkan tanganmu. Aku tak butuh dihibur olehmu.”

Raman segera menuju tempat kos-an Tia.  Ibu kos yang baru pulang dari shopping mendapati Tia terduduk kaku di depan pintu kamarnya sambil menatapi kamarnya yang berantakan dan terdapat tempelan tulisan-tulisan yang bertuliskan ‘MATILAH’. Tia pun mulai menangis. Ternyata ia tak mampu menahan beban itu sendirian lagi. Ibu kos pun terkaget-kaget melihatnya.

Ibu kos    :    “Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan terhadap kamar ini? Kau menghancurkannya.”

Tia          :    “Aku tidak melakukannya!”

Ibu kos    :    “Tidak ada orang lain lagi di rumah ini saat aku pergi selain kamu!”

Tia          :    “Aku tidak melakukannya! Tadi aku keluar beberapa saat. Aku mengunci kamarku, dan kunci itu aku bawa (menunjukkan kunci tersebut)”

Fadhil      :    “Adaapa ini? Wow, ini lebih berantakan dari kamarku, Bu!” (ia mencoba bergurau tapi tak ada satupun yang menggubrisnya)

Ibu kos    :    “Lalu siapa lagi yang melakukannya? Hantu? Fadhil, sejak kapan kamu tiba di rumah ini?”

Fadhil      :    “Yaah, sudah cukup lama. Kulihat kamarnya memang tertutup rapat. Tapi saat aku datang dan melihat ke arah jendela kamarnya, aku melihat bayangan seseorang dan aku pikir itu pastilah Tia. Selebihnya, aku tidak melihat seorangpun yang masuk sejak aku masuk rumah.”

Tia          :    “Tidak mungkin!!!”

Ibu kos    :    “Aku tidak ingin kau bermain-main, Tia!”

Tia          :    “Aku tidak main-main.”

Ia langsung berubah mimik menjadi seorang yang ingin sekali membunuh ibu kos dan Fadhil yang terus menyudutkannya. Tapi ia berpikir, mungkinkah memang dia yang melakukannya. Ia kembali berpikir, lalu telah kemana saja ia tadi, apakah tidak ada yang melihat ia pergi keluar rumah atau melihat kedatangannya saat itu.

Ia lalu berdiri di tengah kamarnya. Ia mengacak-acak seprai kasurnya. Tiba-tiba ia merasa sangat kesal dengan semua orang yang dekat dengannya. Lalu ia terduduk lagi dengan terengah-engah sambil menekankan kedua tangannya ke kepalanya dan mencoba membenamkan kepalanya hingga lututnya. Ia mulai merasakan suara-suara itu memanggilnya lagi. Kali ini lebih keras. Lebih menusuk hatinya. Seolah sosok yang dibayangkannya ingin muncul dari dalam dirinya. Ia tidak mempedulikan ibu kos dan Fadhil yang berusaha menenangkanya dari sisi luar pintu kamarnya. Ia mungkin pernah stress berat sebelumnya, tapi tak pernah seperti ini. Ia pun menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur dan mulai tertidur, larut dalam suara-suara yang mulai sayup terdengar.

Lalu, ia pun terbangun oleh teriakan ibu kos dari sisi luar pintu kamarnya setelah sesaat yang singkat ia tertidur.

Ibu kos    :    “Tia! Tia!”

Tia          :    “Bukan aku yang melakukannya!”

Ibu kos    :    “Bukan itu.Adasesorang yang datang ingin menemuimu.”

Tia          :    (ekspresi bingung) “Siapa?”

Ibu kos    :    “Entahlah. Kau lihat saja sendiri.”

Tia menjejakkan kedua kakinya dari tempat tidur dan mulai menguncir rambutnya yang berantakan. Saat membuka pintu, ibu kos ternyata masih berdiri di depan pintu. Ternyata ada yang ingin disampaikannya.

Ibu kos    :    “Ng…Aku hanya ingin mengatakan padamu untuk tidak membenciku setelah peristiwa yang baru saja terjadi. Kau terlihat marah sekali. Aku tidak ingin kau menganggap bahwa aku tidak peduli.”

Tia          :    “Ya.” (menanggapinya dengan enggan, lalu menutup pintunya dan berjalan menuju ruang depan)

Raman    :    “Tia, kamu kenapa? Maaf aku baru datang. Kuharap aku tidak terlambat.”

Tia          :    “Mungkin memang cukup terlambat.”

Raman    :    “Kau harus menceritakannya kali ini padaku.”

Tia          :    “Tapi Raman, berarti aku harus jadi orang yang munafik di hadapan kamu.”

Raman    :    “Kenapa?”

Tia          :    “Aku telah mengatakan padamu kalau aku sedang tidak ingin berbagi masalah dengan siapa pun.”

Raman    :    “Aku tidak mempermasalahkan itu, Tia. Sekarang kamu ceritakan padaku apa yang terjadi.”

Tia          :    (diam sejenak) “Ng…Aku tidak tahu. Aku merasa aku seperti telah diteror oleh seseorang.”

Raman    :    “Apakah ada yang benar-benar membencimu sedemikian rupa hingga seperti itu?”

Tia          :    “Entahlah, tapi di lain sisi, beberapa orang menuduh akulah sebenarnya yang melakukan itu. Aku benar – benar bingung.”

Raman    :    “Memangnya hal seperti bagaimana yang kau maksudkan?”

Tia          :    “Aku menerima e-mail yang mengaku bayangan diriku dan menginginkan aku untuk mati, aku mendapatkan bangkai tikus di depan kamarku di pagi hari, dan malamnya aku sering bermimpi ada seseorang yang selalu berusaha mencekikku. Dan baru saja aku mendapati kamarku yang telah di acak-acak olah seseorang. Apakah semua itu memang berasal dari diriku? Rasanya tidak mungkin, Raman! Tapi bagaimana mungkin aku melakukan ini semua pada diriku sendiri?”

Raman         :    “Setahuku hanya orang yang berkepribadian ganda lah yang mungkin bisa melakukan dua hal yang bertentangan kepada dirinya sendiri pada saat yang bersamaan.”

Tia          :    “Tidak. Mana mungkin aku ternyata berkepribadian ganda seperti yang kau katakan?”

Raman         :    “Aku tidak mengatakan bahwa orang yang memiliki masalah sepertimu ini harus berkepribadian ganda, Tia. Kurasa masalahmu bukan itu.”

Tia          :    “Lalu apa yang terjadi padaku? Aku jadi mulai membenci diriku sendiri, Raman.”

Raman         :    “Ng…aku tidak yakin bisa memberimu saran lebih jauh lagi jika masalahmu seperti ini. Aku takut kau salah langkah karena saranku. Tapi aku mungkin hanya dapat menyarankanmu untuk menemui psikiater.”

Tia          :    “Apa maksudmu, Raman?”

Raman         :    “Bukan seperti yang kau bayangkan. Aku hanya ingin membuat hatimu tenang melalui saran-saran dari psikiater yang pastinya lebih bisa memahami perasaan orang lain ketimbang diriku.”

Tia          :    “Kupikir kau akan mulai mengatakan bahwa aku gila, sehingga kau menyarankanku pergi ke psikiater.”

Raman         :    “Tak ada salahnya untuk dicoba, bukan?”

Tia          :    “Baiklah. Mungkin besok aku akan mencoba saranmu.”

Raman         :    “Sekarang lebih baik kau beristirahat.”

Tia          :    “Sampai berjumpa lagi, Raman. Terima kasih. Maaf aku telah salah menilaimu.”

Raman         :    “Aku tidak memikirkannya sejauh itu.”

Raman pun meninggalkan Tia, sementara Tia kembali ke rumah kos-annya. Akan tetapi di perjalanan  pulang, Raman melihat Tetya dan Hilman sedang berjalan berdua sambil bergandengan tangan. Ia langsung mengambil posisi untuk mengintip di sudut jalan. Ia merasa harus memberitahukan Tia bahwa ternyata Hilman selama ini memang lelaki hidung belang yang hanya memanfaatkannya. Suatu saat nanti ia akan memberitahukannya. Ya, suatu saat nanti, pasti.

 

 

HARI  III

Akhirnya Tia mulai mencoba untuk pergi ke seorang psikiater untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengannya belakangan ini. Ia meminta Hilman untuk mengantarya ke psikiater tersebut.

Sesampainya disana, Hilman hanya menunggu di luar ruangan, sementara itu Tia mengetuk pintu seraya membuka pintu.

Osa         :    “Silakan masuk.”

Tia          :    “Selamat siang.”

Osa         :    “Siang. Silakan duduk. Ya, apa keluhan Anda?” (bertanya tanpa memandang Tia, ia hanya menulis sesuatu pada catatan kecilnya)

Pada saat ini ada pekerja pembantu yang memberikan biodata Tia pada Osa (pemain figuran)

Tia          :    “Ng…Sebenarnya aku tidak cukup mengerti dengan apa yang terjadi denganku belakangan ini.”

Osa         :    (mulai memperhatikan Tia) “Nah, memang tugasku lah membuat sesuatu itu menjadi mudah dimengerti.”

Tia          :    “Yeah,ummm…Aku menerima e-mail yang mengaku bayangan diriku dan menginginkan aku untuk mati, aku mendapatkan bangkai tikus di depan kamarku di pagi hari, dan malamnya aku sering bermimpi ada seseorang yang selalu berusaha mencekikku. Ohya, akupun sering mendengar suara-suara dari kepalaku yang mengatakan MATILAH.”

Osa         :    (mulai mengguratkan penanya lagi ke buku catatannya yang kecil) “OK, lalu…”

Tia          :    “Lalu mungkinkah aku semua yang melakukan itu pada diriku sendiri? Jujur saja aku tidak mengharapkan kau mengiyakan pertanyaanku.”

Osa         :    “Sayang sekali, karena aku harus menjawab iya. Kemungkinan hal itu terjadi memang ada. Karena memang cukup banyak kasus mengenai hal tersebut. Kita dapat saja mengkategorikan kasus ini ke dalam kasus orang-orang yang berkepribadian ganda.”

Tia          :    “Tapi hal itu tak mungkin terjadi! Aku sedang keluar rumah saat kamarku diacak-acak. Dan bagaimana mungkin aku mengirim e-mail pada diriku sendiri?”

Osa         :    “Tia, orang yang berkepribadian ganda dapat membayangkan dirinya berada di suatu tempat lain ketika kau sedang berada jauh dari tempat tersebut.”

Tia          :    “Tapi waktu itu sedang melakukan kegiatan yang benar-benar nyata. Aku menelepon temanku dan dia memang menerima teleponku saat itu.”

Osa         :    “Semua itu dapat dijelaskan dengan logis, Tia. Mungkin kau butuh sedikit terapi psikologi.”

Tia          :    “Apa maksudmu? Maksudmu aku tidak logis, begitu? Mengapa kau malah menyudutkanku dengan menyuruhku untuk mengikuti terapi?”

Osa         :    “Aku butuh pengenalan dengan kepribadianmu lebih jauh untuk dapat menganlisa lebih tepat.”

Tia          :    “Kurasa tidak usah. Terima kasih.” (beranjak dari tempat duduknya, membuka pintu ruangan, dan kemudian pergi)

Osa         :    “Hei” (berusaha beranjak, tetapi usaha penghentiannya tidak dilanjutkan)

Ketika bertemu dengan Hilman lagi…

Hilman         :    “Bagaimana?”

Tia          :    “Entah aku atau mungkin justru malah dia yang butuh terapi.”

Hilman         :    “Berarti kau tidak berhasil dengan yang ini?”

Tia          :    “Mungkin bisa dikatakan begitu.”

Hilman         :    “Memangnya apa yang dikatakannya padamu?”

Tia          :    “Sudahlah, tidak begitu penting pula.”

Hilman         :    “Baiklah, sebaiknya kita pergi saja.”

Lalu mereka berdua pergi meninggalkan tempat tersebut. Terlihat ada yang mengintai mereka berdua dari belakang (Raman). Akan tetapi tiba-tiba Hilman memberhentikan mobilnya. Entah apa yang meracuni pikirannya, ia berusaha melakukan perbuatan zina dengan Tia. Tia meronta. Ia berusaha keluar dari mobil, tapi pergelangan tangannya ditarik oleh Hilman. Tia menepisnya dam berhasil keluar dari mobil. Hilman mengambil langkah cepat dan berhasil menangkap tangan Tia lagi. Tapi belum sempat menariknya, Raman muncul dengan tiba-tiba dan langsung menghantam Hilman tepat di wajahnya. Hilman tersungkur dengan kagetnya. Ia tak menyangka bahwa Raman lah yang menghajarnya, begitu pula Tia. Raman terus berusaha memukul Hilman. Mereka berdua berkelahi, sementara Tia masih syok dan terduduk di pinggir jalan. Hilman pun akhirnya kabur dengan membawa mobilnya dengan mulut yang robek dan berdarah karena perbuatan Raman. Setelah itu Raman menghampiri Tia.

Raman         :    “Tia, kau tidak apa-apa?”

Tia          :    “Kenapa kau selalu ada?”

Raman         :    “Apa maksudmu? Aku telah menyelamatkanmu, Tia! Aku membuntutimu karena aku tahu dia itu brengsek. Aku melihatnya kemarin malam sedang jalan berduaan dengan Tetya. Itu sudah merupakan suatu bukti yang cukup bagiku untuk mencap dia lelaki brengsek” (sambil melayangkan telunjuknya ke mobil Hilman yang sudah menghilang di tikungan jalan)

Tia          :    “Aku tidak ingin kau selalu mencampuri urusanku. Aku tidak ingin kau merasa telah menjadi pahlawan bagiku. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Raman         :    “Iya, tapi lihat. Apa yang hampir saja terjadi? Kau hampir diperkosa, Tia. Sadarkah kau?”

Tia          :    “Aku tidak butuh kau!!!”

Raman         :    “Dengar. Aku sudah muak akan perkataanmu yang seolah-olah menggambarkan kekuatan dirimu. Sadarlah bahwa dirimu rapuh, Tia! Mengapa kau susah sekali membuka dirimu untuk orang lain yang ingin membantumu?”

Tia          :    “Aku tidak butuh dikasihani. Terutama olehmu.”

Raman         :    “Aku tidak peduli yang akan kau katakan selanjutnya. Aku akan tetap melindungimu, aku akan tetap membantumu dari masalahmu,aku akan tetap mengasihimu.”

Tia          :    “Kau tidak mengerti, Raman.”

Raman         :    “Jika lebih baik aku tidak mengerti, maka aku tidak akan mau mengerti. Karena aku merncintaimu Tia. Aku mencintaimu. Tapi kau tak pernah tahu. Tak pernah mau tahu itu. Kau menganggap tak ada orang yang mengertimu, padahal justru kau lah yang sangat tidak peduli akan perasaan orang lain. Perasaanku, Tia.”

Tia          :    (terdiam sejenak. Kaget mendengar pernyataan cinta Raman) “Aku…Aku…Kau sangat tidak mengerti Raman!”

Raman         :    “Mengapa kau terus mengatakan hal itu? Memangnya apa yang tidak aku mengerti? Apa?”

Tia          :    “Aku memiliki kenangan yang sangat buruk dengan laki-laki, Raman.”

Lalu Tia mulai menceritakan kenangan buruknya ketika ia masih duduk di bangku SMA . Saat itu ia menjalin hubungan dengan seorang lelaki bernama Aldo. Tapi tanpa sengaja mereka telah tergelincir akanasmaramereka sendiri, mereka hanyut akan indahnya cinta dengan melakukan hubungan yang seharusnya tak mereka lakukan.

Tia          :    “Aldo, kamu mau tanggungjawab khan kalau ternyata nanti aku hamil?”

Aldo        :    (sambil mengancingi bajunya) “Ya” (dengan nada malas)

Tia          :    “Apakah kau sungguh-sungguh?” (tapi Aldo tidak menjawab) “Aldo, aku bertanya padamu, apakah kau sungguh-sungguh?” (Aldo tetap tidak menjawab. Ketika ia berusaha keluar kamar, kaki kirinya dipeluk oleh Tia sambil menangis) “Jawab aku Aldo!”

Aldo        :    “Heh, aku yang mengatur hidupku. Bukan kau. Jadi sebaiknya kau lepaskan tanganmu dari kakiku” (sambil menjambak rambut Tia dengan kemarahan)

Tapi Tia tetap mempertahankan posisinya. Aldo pun menyentakkan kakinya.  Tia terhempas. Kemudian Tia kembali berdiri dan berusaha menarik tangan Aldo. Tapi Aldo sudah muak dan menampar wajah Tia. Aldo pun pergi. Tia terhenyak.

Akhirnya Raman berpelukan dengan Tia.

HARI  IV

Pagi itu Tia pergi ke psikiater yang lain, dengan ditemani Raman tentunya. Tia sudah memutuskan hubungannya dengan Hilman sesaat setelah kejadian kemarin. Dan sesampainya di ruangan psikiater tersebut Raman dan Tia masuk bersama-sama. Tia merasa perlu didampingi agar emosinya cukup terkendali, tidak seperti pertemuannya dengan psikiater lain kemarin. Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan tersebut.

Farah      :    “Selamat pagi.” (sambil menjabat tangan Raman, kemudian Tia)

Raman         :    “Pagi.”

Tia          :    “Pagi.”

Farah      :    “Siapa di antara Anda berdua yang akan konsultasi dengan  saya? Karena biasanya klien saya ingin privasi yang baik, dan mereka masuk sendirian.”

Tia          :    “Oh, sesungguhnya saya yang ingin berkonsultasi dengan Anda. Tapi saya ingin didampingi olehnya. Apakah itu tidak apa-apa?”

Farah      :    “Ah, tidak apa-apa. Anda santai saja. Nama Anda…”

Tia          :    “Saya Tia. Sedangkan dia adalah Raman, teman saya.”

Farah      :    “Baiklah Tia. Apa yang ingin kau ceritakan?”

Tia          :    “Sesungguhnya saya bukan orang yang mudah menceritakan sesuatu kepada orang lain.”

Farah      :    “Tidak apa-apa. Saya bisa mengerti.”

Tia          :    “Ummm… Aku menerima e-mail yang mengaku bayangan diriku dan menginginkan aku untuk mati, aku mendapatkan bangkai tikus di depan kamarku di pagi hari, dan malamnya aku sering bermimpi ada seseorang yang selalu berusaha mencekikku. Ohya, akupun sering mendengar suara-suara dari kepalaku yang mengatakan MATILAH. Dan psikiater yang Saya datangi sebelumnya mengatakan bahwa aku adalah orang yang berkepribadian ganda.”

Farah      :    “Mmmmm…Mungkin sekarang Saya harus mencoba satu hal pada Anda.” (sambil mengeluarkan tali rantai panjang yang memiliki bandul pada ujungnya) “Perhatikan ujung bandul ini. Saya akan mencoba menghipnotis Anda. Apabila Anda memang benar-benar memiliki kepribadian ganda, maka kapribadian Anda yang lain akan muncul setelah saya hipnotis. Sampai saat ini saya belum sempat gagal. Jadi tenang saja.”

Farah pun mulai menggoyangkan bandul tersebut. Sementara Tia terus memandangnya. Dan Farah pun memulai percobaannya…

Farah      :    “Siapa namamu?”

Tia          :    “Tia.”

Farah      :    “Siapa orang yang duduk di sebelahmu sekarang?”

Tia          :    “Raman.”

Farah      :    “Apakah kau yang meletakkan bangkai tikus di depan kamarmu?”

Tia          :    “Bukan.”

Farah      :    “Apakah kau yang mengacak-acak kamarmu sendiri?”

Tia          :    “Bukan.”

Farah      :    “Baiklah.”

Farah menjentikkan jarinya. Tia pun sadar kembali dan terlepas dari pengaruh hipnotis Farah sebelumnya. Farah meletakkan kembali tali bandulnya.

Farah      :    “Tia, apakah ada orang  yang sangat membenci Anda?”

Raman         :    “Memang kenapa?”

Farah      :    “Karena Tia tidak memiliki kepribadian ganda. Jadi memang orang lain yang melakukan itu semua.

Tia          :    “Lalu mimpi dan suara-suara itu?”

Farah      :    “Menurutku mimpi dan suara itu datang karena Anda mungkin sedang mengalami stress berat belakangan ini.”

Tia          :    “Ya, hal itu memang sedang kualami.”

Raman         :    “Semuanya sudah terselesaikan?”

Farah      :    “Ya, kuharap begitu.”

Tia          :    “Baiklah. Terimakasih atas bantuan Anda. Pernyataan Anda sudah membuat sebagian hal menjadi cukup jelas bagi saya”

Mereka berdua akhirnya meninggalkan ruangan itu. Raman tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Farah saat menutup pintu perlahan. Farah pun menatapnya dengan wajah mengernyit.

Tia dan Raman telah sampai di rumah kos Tia.

Tia          :    “Hallo…lho, kenapa tidak ada orang di rumah. Mungkin Fadhil dan Michael belum pulang kuliah dan mungkin ibu kos juga belum pulang dari kegiatan rutinnya, yaitu belanja. Ayo masuk, mungkin masih ada makanan yang disisakan ibu kos di meja makan. Dengan begitu kau bisa makan siang di sini.”

Raman         :    “Ya. Mungkin itu ide bagus, aku juga sudah lapar.”

Tia          :    “Hei, kalau begitu siapa yang berusaha menakutiku dengan semua kekonyolan itu? E-mail, bangkai tikus, kamarku yang berantakan…Siapa yang melakukannya? Menurutmu siapa, Raman? (sebelum Raman menjawab, handphone Tia berbunyi sebelumnya diperlihatkan Farah baru saja menyadari sesuatu dan berusaha menelepon Tia) “Halo”

Farah      :    “Halo, ini Saya, psikiater yang baru saja Anda temui. Saya baru saja menyadari bahwa sepertinya mungkin teman Anda lah yang mempunyai kepribadian ganda, bukan Anda. Saya selalu mengetahui apabila saya menemui orang-orang semacam itu. Karena orang yang berkepribadian ganda biasanya melakukan sesuatu yang tak terduga, sebaiknya Anda sedikit waspada.”

Raman         :    “Mungkin semua itu bukan ‘kekonyolan’ seperti yang kau pikirkan.”

Belum sempat mengakhiri pembicaraannya dengan Farah lewat telepon, ia kaget mendengar perkataan Raman. Ia melihat Raman sudah menatapnya dengan tatapan yang seperti entah dirasuki apa. Yang jelas tatapan itu membuat Tia gemetar, karena Raman perlahan mencoba menggapai pisau dapur yang terletak 1 meter di depannya di atas meja makan. Tatapan itu tak pernah lepas darinya hingga akhirnya Tia menjatuhkan handphonenya. Diperlihatkan Farah membelalakkan matanya sambil perlahan menutup telepon yang digenggamnya

– END –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

calendar

var cutekiWidget=1; var cutekiLeng="en"
%d bloggers like this: