Drama : Afuck HITLER

13 Jul

*Tulisan berikut ini hanyalah imajinasi anak-anak SMA semata. Tidak bermaksud menyinggung siapapun.

Lagi dan Lagi… Drama lagiiii….

langsung cek ke TKP ajah yuhhhh….

Afuck HITLER

 

Konon ini menceritakan kehidupan Hitler semasa kecil dan bagaimana dia bisa muncul sebagai pemimpin. Jerman. Kota Brankurt, Jerman, tahun 1940. Alkisah seorang anak biadab bernama Afuck Hitler baru saja menyelesaikan sekolah menengahnya. Anak yang kabarnya merasa pandai melukis itu ingin mendaftar ke Akademi Seni Qina. Ketika mendaftar, ia berhadapan dengan kepala sekolah dari akademi tersebut.

 

Hitler  : (mengetuk pintu) “Permisi Bu Olympus Cond Martatiahuahua, saya ingin mendaftar ke sekolah ini.”

Cond   : (dingin) “Masuk! Langsung saja. Mana surat-surat kamu?”

Hitler   : “Ini Bu!”

Cond            : (melihat surat-surat) “Oke ini semua sudah lengkap.STTBSD, SMP, SMA, SLB, SIM, KTP, pasfoto, STNK. Tapi setelah saya melihat semuanya. Setelah saya pikir-pikir dengan melihat waktu dan sikon, ternyata kamu sulit masuk ke sekolah ini. Sebab kamu memiliki kekurangan dan kelebihan.”

Hitler               : “Apa itu Bu?”

Cond   : “Mau kelebihan atau kekurangan dulu?”

Hitler   : “Kekurangan Bu!”

Cond            : “Nilai kamu nggak bagus sama sekali. Saya saja heran kamu bisa lulus SMA. Kamu ada ikut les di luar nggak?”

Hitler            : “Dulu saya ikut Primagama, cuma belakangan saya nggak bisa ikut lagi. Habis saya sibuk sih. Sudah ngeband, main basket, ikut nari, mana jadi ketua OSIS lagi.”

Cond   : “Udah tahu bodoh nggak les pula.”

Hitler   : “Oh iya, kelebihan saya apa Bu?”

Cond   : “Kelebihan bau badan. Udah keluar saja kamu!”

Hitler   : “Jadi, saya nggak bisa masuk?”

Cond   : “Nggak!”

Hitler   : ”Udah kautolak, kau hina pula aku. Teganya kau!”

Cond   : “Emang tega, akukanbukan penyayang binatang.”

Hitler   : “Jadi aku harus ke mana lagi sekolah… biar sukses!”

Cond            : “Sudahlah… kau nggak bakalan sukses. Ingatlah nasehat saya ini agar kamu tidak lupa.”

Hitler   : “Kurang ajar… Kusumpahi 7 turunan kau pesek semua!”

Cond   : “Terserahlah… yang penting nggak kayak binatang.”

Hitler   : (pergi dengan geram dan sedih)

 

 

Sedih karena ditolak, ia memutuskan untuk tidak kuliah. Ia hidup dengan upah order dari jasa melukis kartu pos dan iklan. Suatu sore, di rumahnya, saat  ayahnya pulang dari kantor, Hitler bercakap-cakap dengan ayahnya.

 

R. Hitler          : “Papa pulang!”

Hitler   : “Kok rapi amat?Adayang ngurusin ya?”

R. Hitler          : ”Kanada Trika!”

Hitler   : ”Oh, aku pikir habis dari lokalisasi.”

R. Hitler          : ”Apa? Kamu kok tahu?”

Hitler   : ”Eh, salah. Maksudnya lokasi. Papa bilang apa tadi?”

R. Hitler       : ”Ah, nggak ada. Cuma bercanda. Papa dapat berita tadi. Rupanya Jerman kalah.”

Hitler            : “Mana menang kok lawan Arab Saudi 8-0. Klose cetak tiga gol.”

R. Hitler          : ”Emang kamu ngerti Bola?”

Hitler            : ”Nggak! Jadi Pa? Jerman kalah perang?”

R. Hitler          : “Iya. Isi perjanjian Persailles sangat merugikan kita. ”

Hitler   : “Saya nggak terima. Saya mau lawan tu sekutu!”

R. Hitler          : “Tekadmu bagus nak Papa harap kamu diterima di sisi-Nya.”

Hitler   : ”Apa?”

R. Hitler       : ”Eh, nggak kok! Papa bilang pasti kamu bisa lawan tu kutu rambut!”

Hitler   : “Betul!”

R. Hitler       : “Ya! (semangat) aduh.. dada Papa sakit… kayaknya Papa kena serangan jantung deh! Selamat tinggal, Anakku! Asalamualaikum..” (pingsan, mati)

Hitler            : “Walaikumsalam… Hah Papa? Kenapa Pa? Bangun Pa! Papa… !!” (sedih)

 

 

Hitler yang marah dengan kekalahan Jerman ditambah dengan kematian ayahnya bergabung dengan Nazis, sebuah Partai komunis di Jerman. Berkat kegigihan dan keberaniannya, ia menjadi orang terpercaya di Partai tersebut. Perannya disebut-sebut paling besar. Bahkan seterusnya ia menjadi pemimpin Partai tersebut.

 

Pada suatu hari yang tenang, anak buah Hitler sedang bermain kartu.

 

Am      : “Woi, jalan lo! Ada gak atau lewat nih!”

Ariel    : “Wait! Bentar!Adanih gw! Pair Joker! Hahaha… gw menang nih!”

Riky    : “Eh, lo jangan kegirangan dulu, gw lawan nih!”

Am      : (gagap sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar)

Ricken : “Nape lo, kebelet? Sono-sono pergi jauh-jauh dari kite-kite!”

Am      : “Bu.. bukan, bos datang!”

(Langsung membereskan kartu)

Hitler   : “Selamat malam semua!”

Anggota          : (diam)

Ricken : “Sebutkan dulu kata kuncinya! ”

Hitler   : “Aduh, saya lupa. Heil Hitler! ”

Anggota          : “Heil Hitler!”

Ricken : “Bagus-bagus”

Hitler            : (menembakkan peluru ke Ricken. Ricken mati. Ariel membuangnya keluar) “Seharusnya saya yang bilang itu. Dasar bodoh! Mari kita mulai rapat kita. Misalkan saja Yunani menghancurkan segala yang kita miliki, kalian mau nggak? ”

Anggota          : “Tentu tidak! ” (Ariel berbicara panjang lebar dengan Isaac)

Hitler   : “Stop bicaranya Ariel! ”

Ariel    : “Ampun Bos! ”

Hitler            : “Baiklah, sidang kita lanjutkan. Karena kalau tidak mau menghancurkan bangsa Yunani kita akan kalah, di mana mereka adalah bangsa yang lebih rendah daripada kita, Bangsa Aria. Maka dari itu… (berpikir) Maka dari itu kita harus menghancurkan mereka. Hidup Jerman! ”

Anggota          : “Hidup! ”

Hitler   : “Hidup Bangsa Aria! ”

Anggota          : “Hidup! ”

Hitler   : “Hidup Hitler! ”

Anggota          : (berpikir sejenak) “Hidup.. ” (lemas)

Hitler            : “F**k! Hei apa-apaan ini kenapa banyak kartu bertebaran dimana-mana!”

A. Surkenon : “Anu, bos! Saya telat melapor, tadi ada tikus makan kartu! Jadi kartunya berantakan deh!”

Hitler            : “Apa tikus? Bagaimana ini sersan Ambee! Laksanakan tugasmu!”

I. Ambee      : (bingung) “Emangnya ada tikus?”

A. Surkenon : ”Aduh, sersan gimana? Tadikanada banyak tikus pada nongol giginya!”

I. Ambee      : “Oh, ya Bos! Tadi saya dan Surkenon sudah membasmi para tikus itu dengan baygon!”

Hitler           : (berpikir) ‘Emang tikus bisa mati pake baygon?’

 

 

Belum sempat memecahkan teka-teki yang amat sangat dirasa sulit itu, tiba-tiba sersan Am datang tergopoh-gopoh!

 

Am      : “Ada surat Bos! ”

Hitler   : “Apa isinya? ”

Am      : “Wah, nggak tau tuh Bos. ”

Hitler            : “Goblok! Buka dulu dong, baca, kasih tahu saya. Telmi amat. Ngomong-ngomong tugas kamu sudah kamu kerjakan? ”

Am      : “Belum”

Hitler   : “Yang lain gimana? ”

Anggota          : “Udah! ”

Hitler            : “Kamu sendiri yang belum buat. Gimana sih? Mentang-mentang kau cewe, kau boleh berbuat seenaknya ya? Tugas itu sudah saya kasih dua minggu lalu. Ya sudah, nama kamu saya tandai dan kamu hari ini dapat nilai minus karena telat. Baca surat itu! ”

Am      : (membuka surat) “Ada kabar baik dan kabar buruk Bos. ”

Hitler   : “Kabar buruk dulu. ”

Am      : “Presiden Hindenburg meninggal.”

Hitler   : “Innalillahi.. Berdoa mulai (menunduk), Selesai! Kabar baiknya? ”

Am      : “Bos ditunjuk menjadi Presiden Jerman yang baru. ”

Hitler            : “Iya? Baguslah. Berarti rencana kita bisa jalan dengan lancar. Kita langsung aja serang Yunani, kalian siap? ”

Anggota          : “Siap! ”

Isaac    : “Duitnya dari mana? ”

Hitler            : “Itu urusan kalian. Aku mau pulang. Bini aku lagi nggak ada di rumah. Heil Hitler! Am, kamu pimpin sidang.”

Am               : “Baiklah, untuk diketahui, pemerintah hanya menyiapkan dana sebanyak 25 Juta mark. Sementara kita butuh 50 Juta mark. Apa yang harus kita lakukan? ”

Isaac    : “Kita adain malam dana aja. ”

Am      : “Wah bagus juga. ”

Isaac             : “Temanya tembang kenangan aja, biar engkong-engkong pada datang. Khan mereka tajir tuh!”

Ariel             : “Bole-boleh… Trus, kita adain band, nari jaipong, kabaret, lelang kue, ama tari tor-tor. ”

Am      : “Oke-oke kita adakan minggu depan. ”

 

Alhasil, dari malam dana tersebut dapat diperoleh dana yang dibutuhkan. Jerman semakin menggila. Mereka lalu menyerang Austria, Luxembourg, dan Belanda. Rencana utama, Yunani, akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Tapi, di balik semua itu, ada satu hal yang tidak diketahui Hitler.

 

Ariel    : “Malam Bos! ”

Isaac    : “Ke mana aja malam-malam gini? ”

Ariel    : “Nonton. ”

Isaac    : “Nonton apa? Da Vinci Code, bukan?”

Ariel             : “Bukan! Belum ada dvd bajakannya kali Bos!

Isaac    : “Terserahlah. Gimana perkembangannya, Hitler jadi nyerang kita?”

Ariel    : “Jadi, bulan depan. ”

Isaac    : “Oke, dalam satu bulan ini kita siapkan pasukan.”

Ariel    : “Sip !! Awas-awas… Hitler datang, pergi-pergi!”

Isaac    : “Oke… oke… ”

 

Selang beberapa detik kemudian.

 

Hitler   : “Woi, blacky… Ada perubahan rencana. Besok kita serang Yunani.”

A.Surkenon     : “Apa? Serius lu! ”

Hitler            : “Kan enak bikin kejutan. Malam ini kita berangkat. Cepetan siap-siap sana.”

Ariel    : “Ah.. Oh… Iya… Oke… Oke. Aduh… gimana nih nasib Yunani…. ”

Hitler   : “Apa? ”

Ariel    : “Nggak ada… Besok subuh-subuh kita akan pergi!”

 

 

Keesokan harinya.

 

Hitler   : ”Komandan Ariel! Mana si Am?”

Ariel    : ”Kena macet kali, Bos! Nah itu dia!”

Am               : ”Maaf, Bos! (hormat) Lapor tadi saya baru nyetor abis saya gak tahan lagi!”

Hitler   : ”Laporan diterima! Bawa apa aja kamu!

Am               : ”Bentar… Hmm..mm.. saya bawa pisang, bawa senter, bawa rupiah, eh, salah tali rapia, trus yang terakhir dan tak tertinggalkan adalah HAIR DRYER..”

GUBRAK!

Hitler            : ”Buat apa kamu, bawa benda itu?”

Am               : ”Ah, Bos ini! Masa gak gaul sih! Ya, buat mejeng dong! Ntar klo ada cewe lewat masa penampilan kita acak adul!”

Ariel            : “Wah, kadang-kadang otak lo ada gunanya juga yah!”

Am               : (membanggakan diri) Gw gitu looch..!”

Hitler            : ”Sudah! Ayo, kita jalan keburu matahari berada di atas kita.” (jalan)

 

Mereka pun akhirnya memulai perjalanan panjang mereka. Dari mendaki gunung, melewati sungai, sampai melihat air mengalir indah bersamudera. Bersama mereka bertualang merasakan pahit dan manisnya kehidupan.

 

Hitler            : “Nah kita sudah sampai… Cari bangsa Yunani itu! Di mana mereka kira-kira Am? ”

Am      : “Diperkirakan mereka berada di Timur, dekat Danau Up Down”

Hitler   : “Kok kamu yakin sekali? ”

Am               : “Sekarang sedang kemarau Bos. Tentara Yunani pasti kehausan. Danau Up Down yang terpencil pasti jadi tempat persembunyian mereka”

Ariel             : (menjauh dari mereka) ‘Duuhh… gimana ya.. supaya bangsa Yunani nggak kena.’ (berpikir) ”Oh iya..!!! Woi Am… (mendekat ke Am) Aku rasa mereka tidak di situ. Mereka cukup pintar untuk tidak bersembunyi di situ.”

Am      : “Kau tahu apa? Saya ahli perang.”

Ariel    : “Saya tahu benar orang Yunani. Mereka tidak sebodoh kau.”

Am      : “Terserahlah. Mau taruhan?”

Hitler   : “Diam kalian! Kubunuh kalian nanti. Sekarang mana yang benar? ”

Am      : “Timur.”

Ariel    : “Saya rasa di barat”

Am      : “Timur!”

Ariel    : “Barat!”

Am      : “Barat!”

Ariel    : “Timur! Eh salah, Barat! ”

Hitler               : “Diam! Ariel, kamu memang tahu betul kan sifat orang Yunani?”

Am      : “Tapi Bos”

Hitler   : “Sudahlah. Ariel, perintahkan mereka cari di barat. ”

Ariel    : “Siap! ”

 

 

Ternyata di Barat sedang mangkal pasukan Amerika. Alhasil, pasukan Jerman hancur lebur karena tidak siap. Amerika pun semakin gencar menyerang Jerman pada hari-hari berikutnya. Jerman jadi kacau. Konon ini berkat kecerdikan Ariel. Hitler ngamuk-ngamuk mendapatkan hasil ini.

 

Hitler   : “F**k!! Kurang ajar Ariel! Sok tahu dia! F**k!! Mana dia!”

Am               : “Tunggu sebentar Bos. Biar saya panggilkan. Ariel!!” (mencari Ariel) “Ariel…! Ariel…!”

Ariel    : “Woi, aku di sini!! Ngapain nyari-nyari aku? ”

Am      : “Bos manggil tuh!”

Ariel    : “Oh, ya?” (pergi menghampiri Hitler)

Hitler            : (lihat Ariel) “Ariel jahanam, kemari kau!”

Ariel             :  “Siap ada apa Bos!”

Hitler            :  ”Pake tanya lagi? Kurang ajar kau! Semua ini gara-gara kau! Kau membohongiku! Kau berbohong pada rakyat Jerman! Kau berbohong pada bangsa Arya!”

Am               : ”Ya..ya…ya… Pasti kau pengkhianat, riel!”

Hitler            :  Diam kau, Am!

Am               :  (ketakutan) A…ampun.. Bos!

Ariel    : “Hi…hi..hi..” (senang melihat Am dimarahi)

Hiter             :  (melotot)

Ariel             :  (menunduk) “Em..mm… sebenarnya Bos… aku… tapi Bos… ah sudahlah…”

Hitler            : “Apa maksudmu, riel? Beritahu aku? Kau telah mencoreng nama baikku!

 

Tiba-tiba datanglah Isaac tanpa undangan telebih dahulu.

Isaac    : “Hahahahahahahahaha!! Hah hahh.. hahh” (keselek)

Ariel    : “Makanya jangan kebanyakan aksen. Beginilah jadinya.”

Isaac    : “Kamu bilang apa? ”

Ariel    : “Nggak deh bos. Ampun! ”

Am      : “Hah ? Bos? Berarti kau ? ” (tercengang)

Isaac    : “Hahahahahahahahhah.. hahh.. Sebenarnya dia itu anak buahku!”

Am      : ”Tuhkan, dibilangin juga apa?”

Hitler   : (kaget)

Ariel             : “Iya, betul sekali! Dia adalah bosku ! Kami adalah mata-mata dari Yunani. Kau sudah terlambat untuk menyadarinya, Hitler! Dan kau Am, kau pintar juga ya.. bisa menyadari keberadaan kami!”

Am               : ”Oh ya! Makasih!” (tersipu malu-malu)

Hitler            :  ”Sial kau Isaac! Kau perempuan jahanam! Ternyata kau yang menyuruh Ariel untuk berbohong ya! Gara-gara kau, hancurlah seluruh pasukanku!”

Isaac             :  ”Lah.. itu mah derita lo! Ariel hanya menjalankan tugasnya untuk mengamankan bangsa Yunani dari serangan bangsa Arya! Ariel! Karena kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik! Maka kau kuberikan hadiah sebesar 100 juta mark!”

Ariel             : ”Terima kasih!” (beri hormat) ”Berhasil… berhasil.. Horay!”

Am               : ”Bos.. Bos..! Bagaimana ini Bos! Mereka telah menyebabkan kita luka-luka akibat pengkhianatan mereka! Kita harus membalasnya!”

Hitler            : ”Tenang! Tenang! Isaac, sebenarnya apa tujuanmu kemari?”

Isaac             : ”Hahahaa… Masa kau tidak tahu! Aku ke sini datang untuk merayakan kekalahanmu! Karena sebentar lagi Amerika akan membinasakan bangsa Arya! Dan bangsa Yunani akan berjaya!”

Am               : ”Bos! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku akan membunuhnya!” (mengeluarkan pistol)

Hitler            :  ”Tidak, akulah yang akan membunuhnya!” (menembak Isaac)

Isaac             :  ”Aaaaaaahhhhh…” (kesakitan karena pundaknya tertembak)

Ariel             : ”Bos.. Bos.. bertahanlah Bos! Saya akan memanggil nyonya besar!”

Isaac             : ”Cepat pergi!”

Ariel             : (pergi)

Am               : ”Oohh… Kasihan sekali kau! Ditinggalkan anak buah kesayangan kau! Bos, gimana ini dia belum mati juga!”

Hitler            : ”Nanti… aku akan menyiksanya terlebih dahulu! Huahahaha…!”

 

Lalu, Hitler dan Am menyiksa Isaac. Tapi, tiba-tiba datanglah Ariel dengan diikuti oleh seseorang.

Ariel             : ”Tunggu! Bos aku sudah memanggil nyonya besar!” (menghampiri Isaac)

Isaac             : ”Terima kasih, Ariel! Gaji kau akan dinaikkan 2x lipat!”

 

Dan datanglah seseorang.

Cond            : ”Hei! Kau apakan anakku!

Hitler            : ”Siapa kamu!?”

Isaac             : ”Mama..”

Cond            : ”Anakku!”

Isaac            : ”Mama..”

Cond            : ”Anakku!”

C+I               : ”Berpelukan..”

Am               : ”Kau? Dan dia?”

Cond            : (cuekin Am) ”Anakku kau diapakan saja, Nak!”

Isaac             : ”Disiksa, Ma! Buktinya Ma, pundak Isaac berdarah!”

Cond            : ”Duh akit ya…! Kacian!”

Isaac             : ”Iya, Ma! Akiii..iiit… banged!” Kayaknya Isaac mo mati aja deh, Ma!”

Cond            : ”Jangan… jangan.. mati anakku! Kau belum bayar tagihan listrik 9 bulan!”

Isaac             : ”Apa?” (langsung pingsan)

Cond            : ”Anakku….” (nangis) ”Aku… hiks..hiks… akan… balas dendam atas kematian anakku!”

Am               : ”Apa anakmu? Beneran tuh? Kau… kau.. khan janda pemilik gudang mesiu seantero jagad raya semesta ini! Tapi kau bangkrut gara-gara ketamakanmu itu”

Cond            : (berbangga diri) ”Hmm.. Kurang terkenal apa aku ini, berita itu ternyata cepat sekali menyebarnya!”

Hitler            : ”Hah?! Masa sih? Kayaknya anak ama ibu gak ada miripnya deh! Tapi… kayaknya aku pernah liat deh ini orang!” (mendekati Cond)

Ariel             : ”Gak mungkin! Muka Nyonya besar bukanlah muka pasaran! Mukaya dia itu muka innocent! Muka langka di dunia ini! ”

Cond            : (mendorong Hitler) ”Heh! Lo ngapain liat-liat muka gw! Susah emang kalo banyak fans.”

Hitler            : ”Woi, Am! Bener gak kalo… ” (berbisik)

Am               : ”Apa? Kok tau Bos! Hmm… Iya..iya… trus.. Oh bener tuh! ”

Cond            : ”Hai, ada apa nih! Ada peri gosip ya… Aduuh..perihnya digosipin!”

Hitler            : ”Ih.. amit-amit dah gosipin ibu-ibu janda! Oh ya! Aku ingat, kamu adalah Cond Huahua. Benar khan ? ”

Cond            : ”Hah ? Kok tau ? (pikir) Hmm… pantesan aku pernah liat tampang kamu ! Kamu khan Hit…Hit… Hit.. Obat nyamuk khan? Yang pernah aku tolak jadi siswa di sekolah seni terKENAL.”

Am               : ”Enak aja yah, kamu katain Bos aku ! Dia itu Afuck Hitler! Ketua paling berbakat di dunia ini tau! ”

Hitler            : ”Ya ! Benar kata anak buahku ini ! Kau pasti telah menyesal karena tidak menerimaku dulu! Tapi tenang saja, kau sudah ku ampuni! Karena pembalasanku sudah berakhir dengan membunuh anakmu itu. HAHAHA…. ”

Cond            : ”Riel, apa benar dia telah membunuh anakku ! ” (terduduk lemas)

Ariel             : ”Ampun, Nyonya ! Benar dia telah membunuh anak kesayanganmu itu. ”

Cond            : ”Hmm… Tiada ampun bagi yang telah membunuhnya ! (geram)

 

(suara Adzan)

 

Am               : ”Bos… bos.. udah adzan ! Mending kita balik! Ntar kan Bos ada pengajian. ”

Hitler            : ”Pengajian ? Oh iya ? Pengajian untuk mengenang bos Yunani itu yah! Ok..Ok.. Kita balik! Dadada.. Huahua!”

Cond            : ”Tunggu kau, Hitler ! Rasakanlah pembalasanku ini !” (mengeluarkan pistol)

Hitler            : ”Ada apa lagi sih?! Ribut aja !” (sambil membalikkan badan)

Cond            : (menembak Hitler)

Hitler            : ”Aaauuuu… Sial kau Cond.” (mati)

Am               : ”Hah ? Bos ! Bos ? Bos gak mati khan?”

Ariel             : ”Hahahaha… Am, Bosmu udah mati tau ! Sekarang giliranmu ! (menghampiri Am)

Am               : ”Tiiidddddaaaaaaaaaakkkk…. !!! ” (lari)

Cond            : (menghampiri jenazah Hitler dan mengambil dompet) ”Sudah tenangkah kau di surga, anakku ! Kau tidak usah mencemaskan tunggakan listrik lagi.”

Isaac             : ”Hah, Ma! Apa benar?”

Cond            : ”Iya, benar!” (kaget) ”Hah? Anakku kau masih hidup!”

Isaac             : ”Iya donk, Ma ! Isaac khan kuat kayak Baja Hitam, tadi tuh Isaac cuma KO gara-gara denger tunggakan listrik yang udah segunung.”

Cond            : ”Hohoho… tapi sekarang kita udah tenang! (melihat isi dompet) Uang OK, Foto gak guna, ATM good, Paspor boleh… ”

Isaac             : ”Berarti hidup kita gak susah lagi donk!”

Cond            : ”Tentu donk, Nak! Kita akan bangun cabang rumah kita yang ke-100. Ayo kita pulang ke kampung halaman kita.”

 

Akhirnya mayat Hitler ditemukan dan orang-orang mengambil kesimpulan bahwa Hitler bunuh diri karena Jerman kalah dari sekutu. Lalu Cond dan Isaac hidup kaya raya dengan harta curian dan peninggalan dari Hitler. Sedangkan Am dan Ariel berada di Cina masih dalam tahap kejar-mengejar.

 

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

calendar

var cutekiWidget=1; var cutekiLeng="en"
%d bloggers like this: